Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 September 2021

QUERIES

Harapku begitu besar pada sebuah pencapaian yang memilukan. Sejujurnya aku sendiri merasa galau, benarkah harapku ini ataukah sebuah kebodohan belaka?

Rasanya ingin kukubur segala penyebab kekacauan ini. Tapi benarkah prasangka ku? Bahwa yang kuanggap biang masalah adalah pemicu alasan dari semua ini? Atau memang akulah sebenar-benarnya alasan itu.

Aku?
Atau aku sajalah?

Engkau tahu Tuhan, makna di balik rangkaian kata berakhir tanya ini. Itu pasti. Bahkan pada setiap intonasinya. Pada setiap ekspresinya. Pada setiap rasa yang ikut bersamanya.
Lalu...
Pantaskah luka dan duka ini tersemat dan tercipta? Bolehkah?
Aku bertanya untuk Engkau jawab
Aku bertanya untuk Engkau jelaskan

Sudah terlalu sering aku bertanya. Dan pertanyaan itu tak lagi sebuah pertanyaan pada hakikatnya.
Engkau tahu Tuhan. Itu pasti.

Kenapa?
Engkau tahu Tuhan. Aku tak sedang bertanya lagi. Aku sedang menuntut. Akh... Kasar sekali aku ini pada-Mu
Sementara aku tak selalu bertandang dan bermunajah seperti pinta-Mu.

Aku cukup sadar diri untuk itu. Hal itu jugalah yang mengerdilkanku pada raksasanya asa ku.

Minggu, 23 Juli 2017

PJDRS in mind


Deru suara musik memekakan telinga. Bagaimana tidak segala genre musik rasanya menyerobot bersamaan, berdesak mengisi gendang telinga. puluhan kafe berderet-deret serentak menyuarakan musik, menarik pelanggan.

seorang teman yang kuundang menghadiri bazar akhirnya memenuhi janjinya untuk datang. kupersilahkan duduk ditengah tetamu dan teman-temanku yang lain. obrolan mulai pecah, meski kerongkongan terasa sakit saat suara obrolan beradu keras dengan dentang musik.
Tak lama dia disana, sekejap ia permisi katanya ada teman yang harus diantarnya pulang.

Bazar makin ramai, aku dan teman-teman mulai menikmati riuh musik dan senda gurau diantara semilir angin malam dan sayup suara ombak yang pecah dikejauhan. Kupandang sekitar, kudapati temanku berkunjung kembali, senyumku pecah, kembali mengajaknya berbaur. Ia berbisik ditelingaku "ada yang ingin bertemu".
Penasaranku kambuh, kutengok sekeliling dan mataku tertuju  pada satu sosok yang juga tak asing, sedang mendekat dengan menyandang ransel dipundak.

Kita bertiga akhirnya kini berada dalam satu meja, bercerita apa saja yang terlintas. Terkadang tertawa atau diam saja untuk beberapa saat. Sejujurnya, ada rasa kikuk merasuk diam-diam dalam hati meski sekuat tenaga kupaksakan terlihat biasa saja. Kamu, teman lain yang ingin bertemu denganku secara tiba-tiba adalah kamu yang dulu pernah tak kuinginkan, tapi akhirnya kita pernah bersama, lalu kusesali dan terpisah, kemudian kurindukan bertahun-tahun lamanya. Kerinduan yang entah atas nama apa dan  masih kupertahankan hingga saat kita bertemu kembali ditengah bazar, dimalam yang riuh.

Kurasa kamu juga begitu, kesimpulan itu terlintas begitu saja. Sesekali mata kita bertemu namun tak satupun dari kita mampu mempertahankan pandangan itu lebih lama walau sekali lagi kita mencoba untuk terlihat wajar. Senyummu masih sama, sorot matamu masih menawan, dan kamu objek terindah yang kudapati di bazar itu.

Ada rasa yang terpuaskan diam-diam mengisi relung hati yang sedari tadi tak menentu. Dan kamu, aku rasa juga begitu. Maaf karena aku selalu saja menyamakan rasaku dan rasamu hanya dengan melihat ekspresi senyummu yang dulu sangat kukenali. Aku berani bertaruh!

Walau belum cukup waktu tuk melepas kerinduan tapi tak sekalipun aku mencoba menahan langkahmu saat kamu pamit pulang. Yah... itulah salah satu sikap wajar yang coba kutunjukkan padamu.

Kalian berdua berlalu. Malam seolah melahap punggung kalian dalam gelap. Dan keraibanmulah yang menyendukan malamku yang gempita. Aku berdiri mematung diambang harap, andai saja malam ini bisa lebih panjang. Akh...ini sebuah kebetulan atau menjadi awal yang baru. Aku tak tahu.

Aku mematung dalam gelap tanpa gempita musik bazar, tanpa semilir angin, tanpa deru ombak dikejauhan. Hanya ada malam yang tenang dengan gumulan kisah tentangmu pada belasan tahun lalu. Mataku jelas melihat keindahan malam itu meski tak lagi begitu rinci dalam sempurna. Namun, jemariku pelan menari diatas tuts mengabadikan kenangan kita yang terlintas.

Senin, 21 Juli 2014

Perfect Anger

Gundah itu datang tiba - tiba menyesaki dadaku, menebar hawa dingin, menghembus berat nafas - nafas amarah. Berkali - kali hati mencoba melapangkan sejumlah tempat untuk ikhas, namun setiap kali itu pula penyesalan membuncah. Berandai - andai, akan lebih baik jika tak pernah ada hal yang menghubungkan kehidupanku dengan dirimu, sebab dirimu tak ubahnya petaka bertopeng sahaja bagi diriku, nasibku, takdirku, hidupku.

Kesadaranku memahami betapa emosi telah merajai hati dan telah bersikap tidak adil padamu, namun lakumu telah mencoreng putih jalanmu di mataku, apapun itu. Kebencian ini mungkin salah, bagian dari nuraniku mengakui itu, tapi kesalahanmu jugalah yang menyulutnya.

Belum bisa kurubah kerut kening ini dengan senyum seperti yang pernah kau lihat disepanjang kenanganmu yang menghadirkanku, saat kini kita bersua kembali.


Minggu, 30 Maret 2014

Let it go

Pengakuanmu akan rasa rindu itu seharusnya menjadi degup indah yang menghadirkan debar - debar bahagia, tapi tidak untuk kali ini. Sebab kehadiranmu bukan surprise yang bisa membuatku terpana beberapa saat. Kamu, bukan lagi sosok yang kutunggu diam - diam di teras rumahku saat malam menggelapkan sekitar.

Andai saja saat ini adalah saat dimana aku dan kamu beberapa waktu silam. Ketika seluruh rasa adalah tentang kita saja. Aku mungkin tak ragu melayangkan senyum manja saat raga dan inderamu mengisyaratkan rindu.

Kita... bukan lagi sebuah desiran halus dalam dada sejak kamu memilih jalan yang berbeda. Jejak - jejak itu telah tertinggal jauh dibelakang. Bukan karena aku tak peduli, tapi kamulah, dengan segenap kesadaranmu melangkah menjauh. Airmata hanya menggulirkan butiran-butiran basahnya tanpa banyak bertanya - mengapa kamu pergi? Apa yang salah? Yah... tetesan perih itu tumpah begitu saja dalam kamar duka yang kamu buat untukku, diam - diam, seperti saat aku diam - diam menenangkan hati yang merindumu di malam - malam sepiku, di teras rumah, menunggumu. 

Kepergianmu kala itu, cukup menegaskan bahwa kita bukanlah takdir yang harus kita tunggu lagi, sebaliknya, itu adalah jawaban atas takdir yang mungkin tanpa sadar telah kita tunggu.

Lalu sekarang....
Bertahun - tahun setelah itu, setelah sekian lama kita membangun hidup dari puing - puing mimpi dan harapan - harapan baru, kamu datang dengan rindumu yang dulu pernah kuinginkan. 

Ini seperti traktiran makan siang favoritku tapi aku harus menolak karena perutku terlanjur kenyang. Rasa dan aromanya memang sangat menggugah selera tapi itu tak cukup membuatku lapar kembali.

Kenangan yang coba kamu bangkitkan sesungguhnya belum terkubur terlalu dalam oleh tumpukan luka, tapi hasrat untuk merogoh dan menemukannya kembali tak lagi ada. Biarlah... sudah kurelakan dia disana, dibawah rongsokan hati yang pernah berdarah - darah. 

Lepaskan saja, biarlah dia terbang, melambung tinggi keatas, kemana pun jatuhnya nanti tak akan kucari lagi. Takdir kita mungkin cukuplah sebatas duduk bersisian, saling memandang, tersenyum, tertawa dalam keberasamaan yang biasa. Karena kita bukanlah paduan nada dan lirik dalam lantunan nyayian cinta.

Jumat, 28 Maret 2014

Kidung Senja


Langit sore ini
Melahap panas siang tadi
Hingga tersisa redup terang mentari diambang gelap

Sepoi angin menghembus pelan
Membawa hawa basah gerimis yang membias

Dibawah langitmu
Kumenata satu demi satu harap yang berserak
Mengepal tekad
Esok, hari akan lebih indah

Senin, 24 Maret 2014

Something Left Behind

Hampir tak bisa kuingat lagi kapan terakhir kali kita berbincang hangat tentang apa saja yang terlintas dalam benak. atau, jangan - jangan kita memang tidak pernah melakukannya?

Tapi, ada hal yang selalu kuingat tentang kita....

:: KITA BERDUA SANGAT MIRIP DALAM BEBERAPA HAL
Mereka bilang wajahku sangat mirip denganmu. Sifat dan perilaku kita juga untuk beberapa hal bisa dikatakan sama. Kau tak banyak bicara, aku juga. Aku tak suka keramaian, kaupun demikian. Sendiri, kadang menjadi sebuah kebutuhan tersendiri, untuk kita.

:: TAK BANYAK YANG KUTAHU DARIMU
Meski memiliki beberapa kesamaan, tak lantas membuatku mengerti dan memahami dirimu sepenuhnya. Sosokmu nyaris tertutup. Masalahmu pun hampir tak tertebak. Terkadang, tak ada bedanya saat kau tengah bahagia atau justru sedang dirundung masalah, sebab ekspresimu banyak bersembunyi dibalik bungkam.

:: KAU PENUH KEJUTAN
Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa peribadimu beku, karena sikapmu yang cenderung menyendiri. Tapi, sesungguhnya kau penuh kejutan. Kau kadang memberi hadiah - hadiah yang tak terduga, atau melakukan hal-hal yang menyentuh. mungkin, pemberianmu bukan sesuatu yan wah dan mewah, atau bahkan kau hanya melakukan hal - hal kecil, tapi itu semua sarat akan makna dan kesan yang dalam.

:: KAU SOSOK YANG SABAR DAN IKHLAS
Saat kesulitan bahkan ketidakadilan terjadi padamu, tak banyak kata yang terucap selain mengikhlaskan dan berbaik sangka pada Allah. Hampir tak pernah ku dengar kau menyesali semua yang terjadi padamu. Bila mungkin sempat kau berkeluh, kau melakukannya dalam tiap sujud malammu yang hampir selalu kau tunaikan.

:: KAU SANGAT MENYAYANGIKU
Tak semua inginku kau penuhi, memang. Tapi cintamu kurasakan memenuhi hatiku. Perhatian-perhatian kecil yang kerap kali kau berikan justru mencerminkan betapa besar kasih sayangmu yang sesungguhnya.

Kau mungkin taka akan pernah menjadi sosok yang sempurna, Tapi kau begitu bersahaja dalam kesederhanaan. Dan itu cukup.
Masih kuingat hari-hari dimana aku berbaring manja dipangkuanmu, saat kubergelayut dipundak dan memelukmu hangat, atau ketika aku mencium pipimu.
Kebersamaan yang terasa begitu akrab dan sayangnya tak bisa kita lewati setiap hari, bahkan saat kita bersama sekalipun, beberapa tahun terakhir ini.

Entah kapan terakhir kali kita berbincang hangat, bercanda bersama dan merasakan kebersamaan yang indah.

Aku ingin semua berulang dan tetap seperti itu, selamanya. Entah kapan dan mengapa jarak itu muncul begitu saja, meski aku sadar, dulupun kita tak pernah terlalu dekat. Dan bila boleh aku berkata jujur, aku merindukan semua hal yang terlewatkan  begitu saja, Ayah.

Sabtu, 26 Oktober 2013

TEPAT MALAM INI, LIMA TAHUN YANG LALU


Gelinding waktu menghantar dua hati sampai disini, saat aku dan kamu menjadi kita. Kita yang kadang sama dan berbeda, yang kadang saling bergandeng dan berpisah, yang kadang penuh gairah lalu dingin, yang kadang merindu dan melupa, yang kadang yakin dan ragu, yang kadang mencinta dan membenci.

Kita yang kini masih berwujud satu keinginan dan harapan, meski dengan langkah berbeda namun akhirnya dapat tiba pada satu titik dalam waktu bersamaan. Dan disinilah kita, setidaknya untuk saat ini, menyesaki ruang - ruang tahun dengan berbagai cerita dari pengalaman sejak lima tahun lalu.

Sudah cukupkah perjalanan ini menjadikan kita sebagai tujuan?
Ataukah jembatan yang dibangun dari derap - derap langkah menuju kita masih rapuh?
Berapa lama lagi waktu untuk kita berjalan?
Yakinkah bahwa yang di depan itu, yang indah itu untuk kita? Sementara setiap perjalanan tak pernah menajanjikan kepastian tujuan terindah bagi siapa saja. Kita mungkin dapat merupa keindahan itu sendiri, tapi kita pun dapat dilesapkan oleh apa saja, lalu kita tak akan berarti apa-apa melainkan hanyalah sebuah perjalanan menuju entah.

Apa sebenarnya yang dibutuhkan kita?
Waktu? Keyakinan? Restu? Kesempatan? Takdir?

Entahlah, karena kita adalah gagasan yang cukup sulit ditebak. Pada kenyataannya kita bukan hanya perkara dua pribadi, akan selalu ada mereka yang turut menghiasi lukisan hati kita dengan seribu satu macam warna, pasti ada Dia, sutradara dibalik tiap penggal episode cerita tentang kita.

Sekali lagi, waktu beranjak, menunjuk saat dimana aku dan kamu bersepakat menjadi kita. Moment yang mungkin hanya diingat dan tanpa sengaja dirayakan oleh kita saja. Kebahagiaan dan kesedihan melebur dalam kenangan seiring terlingkarnya satu simbol angka yang berderet runtun pada lembar kalender yang akan selalu berganti. Dan, cerita baru dari episode lain dimulai lagi setelah ujung pena menarik lingkar pada tepian angka yang menggenapkan setahun demi setahun usianya.

Kita, mungkin masih akan terus berjalan berjalan menuju satu tanpa ingin berspekulasi bahwa jalan di depan bisa saja bercabang, tak ada pilihan lain selain menyusuri masing-masing jalan dengan ayunan kaki gontai berteman nelangsa.

Saat ini, kita masih menjadi rumah tempat hatiku dan hatimu pulang. Kita, masih menjadi tempat yang paling nyaman untuk sejenak menarik diri dari fatamorgana, meski kita sendiri masih merupa siluet berwarna gamang.

Kita seolah keajaiban kecil yang hanya dimengerti oleh kita saja, saat amarah yang membuncah berangsunr meredah, dan kesedihan yang menyesakkan berangsur melegakan, atau saat kebahagian menjadi lengkap dalam kesederhanaan. Semua akan baik-baik saja saat mataku dan matamu bertatut memandang kearah kita.

Kita seperti silent hug, menenangkan dalam hening, bijak dalam diam, damai dalam senyap.

Hingga suatu ketika...Airmataku dan peluhmu berubah wujud menjadi sebuah doa, semoga kita, adalah selamanya.

Kamis, 03 Oktober 2013

Sebuah Catatan Kisah


Akhirnya aku hanyalah manusia bodoh
Tidak lebih, tak punya dan tak perlu tahu apa-apa
Tapi indahnya, bagiku tak berujung

Dari dan untukmu kudalami kisah ini
Dan untukmu, aku bersalah
Dan untukmu, aku berdosa
Darimu, aku belajar hingga aku mengerti dan membawanya hingga aku benar-benar pulang

Kujaga semuanya agar tetap indah dan tak hilang.

-------------------------------------------------------------------------------------------------
" For someone to someone "
 

Loving You Always

Dulu, mama selalu memaksa menghabiskan makanan yang kuambil meski sudah kenyang.
Sekarang, aku tahu bahwa sebenarnya mama sedang mengajariku untuk tidak mubazir, menghargai setiap rezeki yang di peroleh dengan cara yang paling sederhana. Lewat sepiring nasi mama juga seolah berpesan agar aku belajar mengendalikan nafsu, mengambil seperlunya saja, sesuai yang aku butuh, bukan apa yang aku mau. Seringkali “mata” membuat kita merasa ingin memiliki semua apa yang terlihat olehnya tapi sedikit dari kita yang menyadari bahwa kita tengah terseret – seret oleh nafsu yang bergelayut pada indera kita, pada hati kita, pada diri kita. 

Dulu, diusia yang masih sangat belia, mama sudah membekaliku dengan jatah jajan bulanan tanpa boleh meminta tambahan pada siapapun.
Sekarang, aku mengerti, itu bukan karena mama pelit tapi mama ingin mengajariku bagaimana membelanjakan uang dengan bijak. Tanpa sadar akhirnya aku  bisa membedakan antara kebutuhan primer dan sekunder jauh sebelum aku mengenal istilah itu. Mamapun tak perlu menyogokku dengan celengan babi atau ayam agar aku mau menyisihkan sebagian uang jajanku karena aku sendiri yang diam-diam mencelengkan rupiah demi rupiah kedalam kaleng bekas, tempat bola tenis papa, demi camilan atau baju baru yang kuimpikan. 

Dulu, jari-jari kecil tanganku pernah diapitkan pensil di tiap selanya lalu mama meremasnya keras sampai tangisku menghentikannya.
Sekarang, aku tak pernah membenci mama bila mengikat itu kembali karena mama tak pernah menghukumku dengan keras bila kesalahanku masih bisa diredam dengan nasehat. Hukuman mama mengajariku tentang konsekuensi dari setiap perbuatan. Aku yang memilih, ingin konsekuensi seperti apa.

Dulu, mama mengajariku berbagai macam doa dan berdoa (baca: beribadah), tak peduli aku bisa menghafalnya dalam waktu singkat, atau melakukannya dengan konsisten.  
Sekarang, kurasakan betapa beruntungnya aku dibekali dasar-dasar agama oleh mama dan papa sejak dini. Hidup bukan melulu soal dunia, tapi juga soal mati (baca: akhirat). Hidup tidak selalu harus bertumpu pada "harta, tahta, 'wanita', dan jabatan" tapi juga pada "Tuhan". Jangan hanya pandai mengais rezeki tapi tidak tahu berzakat, pandai mengeluh tapi tak bisa bersabar, selalu meminta pada Tuhan (baca: Allah) tapi tidak pernah berterima kasih pada-Nya, menghafal semua jadwal "dunia" tapi tidak pernah ingat waktu "sujud" (baca:sholat), fasih berbagai bahasa tapi gagap saat mengaji, cinta pada ciptaan-Nya tapi lupa pada Sang Pencipta. Keseimbangan antara dunia dan akhirat itu perlu, bukankah sudah dikatakan dalam hadist bahwa kerjakanlah urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan kerjakanlah urusan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.
Dulu, mama pernah membentakku, saat aku menolak membantu membelikan sesuatu di warung karena takut dengan seorang temanku yang galak, yang rumahnya tak jauh dari rumahku.
Sekarang, aku faham, mama tak segalak teman yang kutakuti waktu itu. Sesungguhnya mama mengingatkankanku dalam bentakkannya untuk tidak pernah takut dengan siapapun selama aku benar dan tak berbuat hal yang salah dan merugikan orang lain. Jika aku lemah, berarti aku membiarkan orang lain merasa kuat atas diriku dengan alasan apapun. Jika aku takut, mungkin aku sedang memberi peluang pada orang yang merasa berani untuk menindasku, dan aku, meski tak nyaman, secara tak sengaja mengizinkan ketidakadilan itu pada diriku, tetapi mama, tidak menginginkan hal itu terjadi padaku.

Dulu, mama memberiku daftar tugas yang harus kuselesaikan di rumah.
Sekarang, aku merasa bahwa dulu, itu bukanlah sekedar pekerjaan tentang menyapu, mencuci piring, merapikan tempat tidur atau lainnya, tapi, mama menanamkan rasa toleransi, sosial, tanggungjawab, bakti dengan bahasa dan cara-cara yang mudah difahami oleh anak seusiaku.

Dulu, mama tak terihat sedih saat memutuskan memilih sekolah asrama untukku yang jaraknya enam jam perjalanan dari rumahku.
Sekarang, aku sadar sebagian besar bekal dari hidup yang kujalani saat ini kuperoleh di asrama itu. Suka, tidak suka, guru, teman, sahabat, kawan, lawan, belajar, main, rajin, malas, buku, novel, qur'an, hadits, rindu, sayang, cinta, benci, manja, tegar,semangat, mandiri, keras, lemah, lembut, marah, bijak, sabar, emosi, senyum, tawa, tangis, janji, ingkar, simpati, empati, tanggung jawab, sendiri, ramai, sakit, sehat, sopan, santun, nakal, jujur, bohong, takut, berani, kekang, bebas, susah, senang, hukuman, penghargaan, konsekuensi, semua hal tentang hidup dan semua hal yang akan di bawa selepas hidup kupelajari disana. Sendiri, terpisah dari keluarga sebenarnya tak lantas membuatku terabaikan, tetapi, sendiri, ditengah teman, guru dan sekitarku menjadikanku dewasa dan mandiri. Sudah lama sekali, sejak aku lulus dari sekolah kecil ditengah rimbun pepohonan bambu dan kebun-kebun yang jauh dari pemukiman warga, tapi pelajaran akan hidup yang kutempa disana selalu ada menemani di setiap hari-hariku. Asrama itu seperti dunia kecil tempat segala simulasi hidup dilakonkan. Dulu mungkin aku merasa sedih terpisah jauh dari keluarga, tapi sekarang aku bersyukur mama dan papa pernah menitipkanku untuk dididik disana.

Dulu, mama sering memintaku untuk menemani dan membantunya di dapur.
Sekarang, aku bisa masuk dapur sendiri tanpa ada atau dimainta oleh mama (baca: bisa masak sendiri). Secara tidak langsung mama menasehatiku bahwa perempuan bukan hanya sekedar berambut panjang, memakai rok, dan bersolek, tetapi juga harus pandai memasak. Perempuan modern bukan hanya soal kedudukan dan jawabatan penting dalam sebuah instansi atau institusi, tapi juga soal "inner beauty" dari segala aspek kewanitaan. Perempuan tidak akan terlihat rendah, ribet atau kotor saat menyingsingkan lengan baju, meracik aneka menu di dapur, sebaliknya ia akan terlihat hebat dan keibuan. Mungkin sebagian dari kita pernah bahkan sering menikmati berbagai cuisine  ala resto, mulai dari menu lokal sampai import, tapi akan selalu ada menu favorit yang kita rindukan dari dapur mama, yang mungkin dibuat hanya dari bumbu dan rempah sederhana. Yah...seperti itulah mama, selalu menciptakan kerinduan-kerinduan sederhana tapi penuh arti. Pernah menghitung berapa banyak pria yang memilih wanitanya berdasarkan pada kriteria "pandai memasak?" Yah... mungkin itu salah satu alasan mama sering mengajakku ke dapur, bukan sedekar bisa tapi harus pandai memasak minimal untukku, untuk keluargaku, kelak. 

Dulu, mama pernah protes atas penurunan nilai akademikku dengan sindiran halus, "kamu boleh punya pacar asal tidak mennganggu sekolahmu".
Sekarang, aku percaya, waktu itu mama bukan hanya sekedar mencoba memahami perkembangan emosi, jiwa dan perasaanku sebagai anak yang beranjak dewasa, sindiran itu sebagai peringatan untukku agar bisa menempatkan rasa dan asa pada tempat yang tepat dan semestinya. Cita dan cinta punya ruang dan waktunya sendiri-sendiri, kadang keduanya tak perlu dipaksakan untuk berjalan beriring karena ada saat salah satu dari mereka harus berjalan lebih dulu, ini soal prioritas. Tapi kadang masalah seperti itu bisa terselesaikan dengan apik, tapi itu butuh kematangan mental ataupun fisik saat akhirnya cita dan cinta bersanding bersama, berjalan bersisian pada satu arah dan tujuan yang sama.

Masih banyak cerita dan kisah bersama mama, and it's all beautiful :)


Dulu, aku boleh saja berpikir, mama suka marah, suka mengatur dan segala macam tentang pikiran dangkal anak kecil tapi sekarang, aku sadar betapa berharganya semua hal yang kuterima dari mama. Saat mama bersikap keras dan tegas padaku, bukan berarti mama ingin membuatku menangis dan bersedih, tapi air mata, kesal, dan marahku hanyalah proses agar aku mengerti kesalahan dan belajar dari kesalahan itu. Saat mama memeluk dan menghujaniku dengan pujian bukan berarti mama memanjakanku lebih dari yang lainnya, tapi senyum dan debar-debar bangga di dada yang kurasa saat itu adalah proses aku memahami seperti apa cinta dan kasih sayang itu dimulai, dibangun, diberikan dan diperlakukan. Dulu, aku boleh saja menganggap mama kolot, tapi sekarang, aturan-aturan mama yang kurasa ketinggalan zaman itu justru menjadi bekal dan dasar aku menjalani hari-hariku sebagai sosok yang dewasa. Dulu, aku mungkin sering kali merasa cemburu melihat teman-teman kecilku dengan mamanya yang tidak punya banyak aturan dan tuntutan, tapi sekarang, aku malah merasa bersalah telah menyesali didikan mama saat itu, sebaliknya aku bersyukur mama membiasakanku hidup dengan aturan dan tuntutan karena hidup yang kujalani sekarang pun tidaklah mudah. Aku beruntung memiliki mama seperti mamaku.

Bila nanti aku menjadi mama, mungkin banyak didikan beliau yang bisa kuadopsi.  (^_^)
Lalu kalian, seperti apa kalian akan mendidik anak-anak kelak? (It's depend on you).  (^_^)

Dan kalian, yang telah menjadi mama, bersyukurlah karena tak semua perempuan bisa bergelar mami, mama, ibu, emak, amak, inang atau bunda. Jadilah mama yang baik, mama yang penuh kasih sayang dan menginspirasi anak-anaknya.


Ya Allah terima kasih telah melahirkanku dari rahim seorang ibu yang bijaksana. Curahkanlah segala rahmat dan berkah-Mu padanya, berikanlah tempat dan derajat yang tinggi padanya. Limpahkanlah kesehatan dan umur yang panjang, hidup yang berkah dan manfaat padanya. Karunikanlah keindahan, kebahagian, dan keselamatan hidup padanya, dunia dan akhirat. Amin. Untukmu mama dan semua ibu di dunia, aku berdoa.

Thank you Mom, Loving you always.

Kamis, 19 September 2013

Pulang ke Kotamu



Hari itu aku kembali, kesana, di kotamu
Banyak rencana dan hal yang ingin kulakukan disana, dan bagian menarik dari yang kurencanakan adalah melakukan semua yang ingin kulakukan disana bersamamu :)

Apa itu terdengar terlalu mengatur jadwalmu?
I don't care...karena saat - saat bersamamu belakangan ini lambat laun menjadi langka. Mimpi, cita-cita, harapan, beban, pekerjaan, kesibukan, dll menyita separuh kebersamaan yang manis.

"Jangan kaget ya, lusa aku ke Palembang" katamu saat menelponku.

Lagi-lagi kamu harus pergi dan itu pasti untuk waktu yang lama. Enaknya jadi kamu, punya pekerjaan yang selalu bepergian kesana kemari, ditempat yang baru, suasana baru, kantor baru, orang baru, teman baru, (ups... but don't even think about new "heart").

Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, kini tiba saatnya berjibaku dengan kerjaan - kerjaanmu lagi. Aku bisa apa selain membiarkanmu pergi, rinduku hanya bisa menunggu dengan sabar, disini.

Baru seminggu lalu aku tiba disini, dan sekarang aku bergegas lagi untuk pergi. Kesana, ke kotamu, menyelsaikan urusan dan kepentinganku sendiri, dan... bertemu denganmu, sebelum kamu terbang lagi ke Palembang.

 ****
Tak banyak waktu yang bisa kuhabiskan denganmu, besok, pagi-pagi, kamu sudah harus terbang, dan meski aku telah berada disini, bersamamu lagi, aku tak bisa serta merta  mengantarmu ke bandara. Apa kata teman - temanmu nanti :(
**** 

Pesawatmu mungkin saja masih di apron, belum push back, atau kamu bahkan belum check in, belum apa - apa, tapi sepertinya kamu sudah terbang melayang - layang membawa semua rasa dihatiku. Ini bukan yang pertama kalinya aku ditinggal olehmu, tapi hampir ini saja rasa yang kamu titip tiap kali kamu pergi.

Kotamu yang begitu ramai tiba - tiba sepi, urusan dan keperluan yang ingin dan harus kuselesaikan saat itu seolah beban yang tidak bisa kukerjakan sendiri, aku butuh teman untuk membantuku melakukan dan menyelesaikannya, aku butuh kamu.

Perhatianku begitu serius tertuju pada tumpukan - tumpukan buku yang tersusun tak begitu rapi di rak - rak baca toko buku ini, mencari berbagai literatur bahasa Indonesia. Tapi toko buku besar ini sama sekali tak memuaskanku, bagaimana mungkin literatur dan semua buku bahasa Indonesia yang menurutku penting dan semestinya dijual disini, malah tidak ada. Ini toko buku besar, tempat mahasiswa dan semua kutu buku berburu buku, dan yang terpenting, ini Indonesia, tapi apa yang kudapat, buku - buku bahan ajar dan belajar bahasa Indonesia hanya tersedia sebanyak satu rak kecil, masih kalah banyak dengan koleksi novel, komik, majalah, bahkan buku - buku bahasa Inggris. Hugh...

Kekecewaanku coba ku obati dengan melirik koleksi buku - buku sastra, diujung belakang toko ini, melihat dan sedikit mencuri - curi kesempatan membaca beberapa sinopsis novel pembangun jiwa.  Lantunan musik instrumental romantis yang diputar ditoko ini membawa hawa lain didadaku. Akh... tiga minggu lalu, aku masih disini, bersamamu mencari dan akhirnya membeli salah satu novel best seller karangan Ahmad Fuadi.

Kurogoh kantong jeans, meraih handphone dan mencari namamu diantara barisan nama - nama lainnya, "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif", begitu kata operator saat aku mencoba menghubungimu. Saat ini kamu mungkin tengah duduk santai dikursi empuk pesawat menikmati perjalanan perdanamu ke Palembang. Dan disini, aku terjebak oleh rinduku sendiri diantara susunan buku - buku lokal dan impor jualan salah satu toko buku ternama dikotamu.

Kepergianmu melesapkan riuh ramai kota ini. Jalan - jalan yang membekaskan jejak - jejak kenangan kitapun merupa senyap meski dijejali lalu lalang orang - orang. Ah kamu... lagi - lagi merambatkan hawa dingin di dinding hatiku.

Ternyata, arti hadirmu bukan sekedar siulan nada indah didada, tapi juga keinginanku akan keberadaan sosokmu disampingku, saat aku disini, pulang ke kotamu.

Selasa, 10 September 2013

Letter of Heart

I still remember all those things about you. Your eyes, your lips, your hair, the smile on your pretty face, were so close. 
I could see it again, the day you came – giving two sheet letter of your heart. I was study in the mosque terrace, read quite thick book as a preparation of the examination for tomorrow.  It was daylight, made so much surely step to me with the paper folds in your hand.  You gave it to me and I take it. You still there – sitting on second stair not far from me without any words to say but watched me through your sharp eyes.  Of course we didn’t make some nice conversation because I never show you friendly respect that I should give, but you make it ok and smile to me once again. Felt it so silly at the time.

I read your heart that written on the sheets in my dorm, and thought it was wrong. We couldn’t make like you dream, I folded them – whispering apologize then I wrote you something that you don’t expect.


That black sharp eyes looked at me deeply. You smile again when received my letter but I know your heart beats fast, asking one question,” Do I love like you did?”  Guy I am so sorry, you must be sad after read it. Couldn’t help to see your beauty smile wondering it will be ok, I left you soon, but my heart stick beside you and feels the broken.

You came to me, once, twice and three times asking my heart but I stand on my own, sorry can’t take in you by my side.  Just like the fighter, you never give up to me, someday you come up, again, and I finally fall on your seriousness.
 I still remember all those things about you. Your eyes, your lips, your hair, the smile on your pretty face, were so close.

Suddenly, I made another decision, I begin you to break the sweetness, and of course you refuse it. But in my mind, love is shouldn’t like this, with all doubt, like happened to us or may be just happened to me. I still didn’t believe that I am the only one in your head. I thought you still don’t forget that it just only a week after you write a special romantic letter to my best friend, then you get her reply. She refused you, it was written clearly on the paper that you read. 


May be you never know she just laugh when she show me your romantic words, “Oh wow, this such a pretty sentence, is that mean he loved me? how come he get that feeling to me? No, I can’t, he’s not the one I want” she said.  
It just about a week after she broke your feeling, then you also write to me a letter of your heart, even it not as romantic as you write to her, it not the reason why I doubt, but it because you only need a little time to salve your pain to falling love again, with me. I didn’t deny that I was though I am only the escapee of you.  

At daylight, sitting in front of me – your sharp eyes looked deeply into my eyes trying to show me that you not lie.  You may be sent two letters to another different heart to ask but you’ve been decided the one you really want to. Is that right? But why I still can’t be separate with my doubt. If she didn’t refuse you at the time, is it possible to turn your heart to me? Am I possibly having the chance to be loved like this?

You turned around once again but you can’t catch the thing you want as before. You fight for yourself once again but I am too proud with my own opinion that I am only the escapee.

 I still remember all those things about you. Your eyes, your lips, your hair, the smile on your pretty face, were so close.
I asked you to leave for a while and if you really can’t leave, you might come again may be at the time I will completely believe that I am the only one you need. You agreed with that and promise me will be back to years later. You gave me very long time chance to think that your love is true and its only belongs to me.  

There is something you didn’t know, watching your back – loneliness painful in my life.  I honestly love you so much but I want make it sure that you have it too, and it will be proved in next two years. You’ll come as you promised me. 
Would you .... ???

Popular Posts